3:05 am - Saturday July 26, 2014

Menyentuh sesama dengan karya seni desain rumah

YOGYAKARTA (Nyana News) – Penampilannya sebagai seorang dosen mungkin tergolong nyentrik dan berbeda. Orang mungkin tak menyangka, pria berpenampilan sederhana, bahkan mungkin lebih mirip seniman dengan rambut gondrong dikuncir, jambang dan kumis yang tebal itu adalah satu tokoh dunia arsitektur, yang banyak menghasilkan karya melalui desain arsitektur seperti bagi korban bencana.

Pria itu bernama Eugenius Pradipto, kelahiran Wonosari Gunung Kidul, Yogyakarta, 29 Oktober 1956 silam. Sampai saat ini sejumlah penghargaan di bidang arsitektur sudah diraihnya.

Seperti Penghargaan Karya Konstruksi Indonesia, Juara I Teknologi Tepat Guna Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta (2008) juga penghargaan Karya Paten Terbaik UGM (2010). Tahun 2012 lalu, ia pun kembali menyabet gelar terbaik kategori teknologi tepat guna penghargaan Karya Konstruksi Indonesia (KKI), setelah pada 2011 juga meraih penghargaan yang sama. Luar biasa !

Lalu sebenarnya seperti apa karya Pradipto sehingga dosen Jurusan Arsitektir Fakultas Teknik UGM ini kerap meraih berbagai pernghargaan prestisius dunia arsitek itu?

Pradipto merupakan satu diantara sekian banyak arsitek tanah air yang mungkin masih sangat memelihara aspek kombinasi rasa, idealisme, dan filosofis dalam karyanya. Hal ini tercermin dalam berbagai karya yang biasanya ia dedikasikan untuk membantu korban bencana.

Seperti yang pernah ia lakukan untuk para korban banjir lahar dingin akibat erupsi Merapi yang menghancurkan ribuan rumah warga khususnya di wilayah Desa Jumoyo Kabupaten Magelang Jawa Tengah 2011 silam.

Para korban itu, meski kehilangan tempat tinggal, akhirnya mendapatkan semacam ’pengganti’ yang tetap nyaman ditinggali dan manusiawi meski sifatnya darurat menjadi hunian sementara. Di Magelang itu setidaknya dua belas rumah bambu hunian sementara didesainnya untuk ditempati keluarga korban banjir lahar dingin Sungai Pabelan di Sudimoro, Muntilan, Magelang. Desain itu telah mengantarkannya meraih penghargaan 2011 dari Kementerian Pekerjaan Umum.

”Keunggulan karya konstruksi bagi korban bencana itu mengusung konsep pembangunan bekelanjutan dengan pemilihan bambu sebagai material bangunan. Jadi bukan hanya ramah lingkungan, material bambu yang didesain dengan konstruksi yang baik akan mampu bertahan lebih dari 5 tahun tanpa harus diawetkan, “ kata Pradipto.

Yang menarik, bangunan yang sengaja dibuat panggung ini didirikan di atas areal persawahan yang masih produktif. Sang arsitek tidak khawatir bambu sebagai bahan material utamanya lekas rusak jika terkena air atau hujan. Untuk menjaga kelembaban atau basah terkena air, Pradipto membuat pondasi bangunan dari umpak berpori untuk menjaga material bambu tetap kering dan cepat kering apabila terkena air.

”Umpak digunakan jenis umpak berpori dari buis beton yang diiisi dengan kerikil tanpa semen sehingga air cepat meresap dengan mudah dan cepat kering,” kata penyandang gelar doktor arsitektur dari Universitas Stuttgart, Jerman itu.

Selain untuk menjaga struktur bambu dapat bertumpu di atasnya, umpak juga dapat meminimalkan dampak kerusakan lahan sawah yang produktif. “Jika dibongkar, sisa material bangunannya termasuk umpak mudah dibersihkan dari lahan,” ujarnya.

Tak hanya tempat tinggal yang Pradipto desain. Sebab, keganasan banjir lahar dingin Merapi juga menghancurkan dan menenggelamkan pasar utama yang menggerakkan perekonomian di desa itu.

Masyarakat Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, yang menjadi korban pun kehilangan pekerjaan.

Namun Pradipto bersama tim arsitek UGM kemudian kembali bergerak dan mendesain sebuah pasar baru bagi para korban banjir itu. Desain bangunan pasar itu diberi nama ‘Pasar Kejujuran Jumoyo’ yang dibangun di bekas area pasar lama yang hancur tertimbun material banjir lahar dingin luapan Kali Putih akibat erupsi Merapi.

Pasar Kejujuran Jumoyo itu berbentuk rumah panggung yang terbuat dari bambu, masing-masing berukuran 3×6 meter persegi. Dibangun dengan desain yang berpijak pada nilai-nilai kearifan lokal, pasar ini menggunakan konsep mocopat (filosofi Jawa), yakni empat pancer dan lima arah.

Empat pancer berarti bangunan memiliki empat bukaan sisi. Sementara itu, lima arah berarti bangunan memiliki sudut perspektif sebagai ‘yang depan’, baik jika dilihat dari selatan, barat, utara, timur, maupun atas. Dalam pembangunan pasar itu menggunakan 100 persen material lokal seperti bambu dan bahan lainnya.

Ketertarikan Pradipto pada material dan arsitektur bambu karena bahan lokal itu sama sekali belum dilirik dunia arsitektur. Padahal, bambu sudah teruji menjadi bahan bangunan nenek moyang yang tahan lama.

Ia punya harapan. Adanya bangunan monumental yang terbuat dari bahan lokal seperti bambu yang mungkin dunia lain tidak punya. ”Itu akan menjadi satu hal yang luar biasa,” katanya. Seperti saat Indonesia memiliki Candi Borobudur yang megah sementara dunia lain tidak punya.

Tak hanya mendedikasikan karya bagi korban bencana. Karya arsitektur lain Pradipto yang cukup terkenal seperti berjudul ‘Omah Kebon’ yang juga membuat dirinya mendapat penghargaan Kementerian Pekerjaan Umum.

‘Omah Kebon’ ini lokasinya berada di kampung Nitiprayan Yogyakarta. Desain itu bukanlah bangunan mewah. Pemilik rumah itu seorang seniman gerak, Wani Darmawan. Ketika dibangun tahun 2005, Wani meminta Pradipto membangun rumah impiannya dengan dana Rp60 juta. Oleh Pradipto, dibangunlah sebuah rumah tipe dua lantai seluas 64 meter persegi diatas lahan seluas 11 x 20 meter.

Keunikan dari rumah ini terletak pada bahan bangunan yang dipakai, yakni menggunakan material sisa, berupa bekas potongan keramik, potongan kaca, genteng bekas, kayu peti kemas, kusen dan daun usang.

Papan kayu bekas gulungan kabel PLN dimanfaatkan untuk bahan lantai 2 serta material tangga. Dinding rumah berupa anyaman bambu, dikombinasikan dengan papan kayu pinus, keramik sisa, batu kerikil. Bahkan sisa potongan kaca yang diambil di tempat toko besi dijadikan untuk dinding mosaik kaca beton yang mampu menampilkan perpaduan yang eksotis dan natural.

Dengan sejumlah karya dan prestasinya, Pradipto pun pernh mendapatkan apresiasi tersendiri dari para mahasiswa khususnya penggemar fotografi bernama komunitas arsitek alumni UGM “Jaran Goyang”. Mereka menggelar pameran foto bertajuk “Ketika Kesederhanaan Bicara” pada 2012 lalu di Bentara Budaya Yogyakarta sebagai wujud apresiasinya terhadap prestasi yang ditorehkan Pradipto.

Dalam pameran itu dipamerkan 64 foto yang mengungkapkan sejumlah karya arsitektur rancangan Pradipto yang kebanyakan merupakan karya yang diperuntukkan bagi masyarakat bawah. Sebanyak 32 foto memotret tentang rumah bambu yang digunakan sebagai hunian sementara masyarakat korban lahar dingin Merapi di Sudimoro, Magelang. Sementara 13 foto lainnya membingkai tentang karya-karya lain Pradipto seperti rumah tinggal dan rumah budaya Tembi. (Ius)

Filed in: Profile