1:39 am - Wednesday July 23, 2014

Tawur Agung Kesanga dan Pawai Ogoh-ogoh

TABANAN (Nyana News) – Sehari sebelum perayaan hari raya Nyepi tahun baru saka 1935, Umat Hindu Dharma di Bali, Senin (11/3), melaksanakan Tawur Kesanga, yang dilakukan secara serentak dan berjenjang di Seluruh Bali, mulai dari tingkat provinsi, kabupaten/kota, hingga tingkatan rumah tangga yang berakhir pada sore hari.

“Kegiatan untuk tingkat Provinsi Bali dipusatkan di Penataran Agung Pura Besakih, kemudian dilanjutkan pada tingkat kabupaten/kota, kecamatan, desa adat, dan berakhir pada tingkatan rumah tangga,” kata Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali Dr. I Gusti Ngurah Sudiana.

Ia mengatakan bahwa pelaksanaan kegiatan ritual secara serentak pada 1.480 desa adat (pekraman) di Pulau Dewata itu bertujuan menyucikan alam semesta dan isinya serta meningkatkan hubungan dan keharmonisan antara sesama manusia, manusia dengan lingkungannya, serta manusia dengan Tuhan (Tri Hita Karana).

Sesuai dengan pedoman yang dikeluarkan majelis tertinggi umat Hindu kepada seluruh desa pekraman (adat), Tawur Kesanga pada Tahun Baru Saka 1934 ini diakhiri dengan mengadakan persembahyangan bersama, dan pelaksanaannya sesuai dengan tingkatan masing-masing.

Untuk Tawur Kesanga yang dipusatkan di Pura Besakih, Kabupaten Karangasem, Bali timur masing-masing kecamatan mengirim utusan untuk mencari air suci (tirta) guna selanjutnya dibagikan kepada seluruh umat di wilayahnya masing-masing.

Untuk tingkat kabupaten melaksanakan kegiatan serupa dengan kelengkapan “Panca Kelud Bhuana” atau sesuai dengan kemampuan masing-masing Kabupaten/Kota.

Sementara itu, tingkat kecamatan menggunakan upakara “Caru Panca Sanak”, dilanjutkan di tingkat desa dengan menggunakan upakara “Caru Panca Sata”, serta di tingkat banjar menggunakan upakara “Caru Eka Sata”.

Kegiatan tersebut berakhir pada tingkatan rumah tangga pada sore hari dengan menggunakan banten “Sakasidan”, dan segehan agung cacahan 11/33 tanding.

Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan ritual “Pengrupukan” yang diwarnai dengan arak-arakan ogoh-ogoh (boneka ukuran besar) oleh anak-anak muda.

Arakan ogoh-ogoh dilakukan hampir di setiap desa pekraman di delapan kabupaten dan kota di Bali.
Begitu juga dengan Desa Pekraman Dalang, yang berada 21 Km arah Barat Kota Tabanan menggelar “Pecaruan Panca Sata” yang dirangkaikan dengan pawai ogoh-ogoh yang diarak oleh muda-mudi setempat.

Pawai ogoh-ogoh (boneka berwujud raksasa memiliki sifat kebatilan) mengambil start di depan Balai Banjar Dalang Desa dan berakhir di lokasi start, digelar mulai pukul 15.30, Senin (11/3).

Menurut Ketua Sekha Teruna Teruni (STT) Dalang I Gede Berly, persiapan membuat ogoh-ogoh sampai selesai memerlukan waktu 1 bulan, dan menghabiskan biaya Rp1,5 juta. Sumber dananya dari sumbangan sukarela dari warga banjar dan masyarakat Dalang yang tinggal di perantauan. Pengerjaannya dilakukan bersama-sama oleh seluruh anggota STT.

“Kami mengerjakan ogoh-ogoh ini secara bergotong-royong, yaitu dengan semangat kebersamaan, untuk lebih mempererat hubungan antar anggota STT Dalang, agar STT yang tinggal di kampung dan di kota bisa lebih kenal dan lebih akrab,” tegas Berly.

Karena ogoh-ogoh merupakan rangkaian dari Pecaruan Panca Sata, koordinasinya dibawah komando Kelian Banjar Adat Dalang I Wayan Saking. “Acara pawai ogoh-ogoh rutin dilakukan setiap tahun. Disamping merupakan sebagai rangkaian upacara, kami berharap agar kegiatan ini bisa memacu kreatifitas generasi muda Dalang, dan bisa menjaga rasa kekluargaan dan kebersamaan diantara mereka,” ujar Saking.

Ogoh-ogoh diarak dengan start di depan Balai Banjar Dalang Desa menuju utara sampai pertigaan arah ke Banjar Ketima, Kembali lagi kearah semula dan finish di tempat start.

Ogoh-ogoh merupakan karya seni generasi muda sebagai bentuk mengekspresikan diri menjelang tahun baru saka. Namun sejatinya, diaraknya ogoh-ogoh dalam wujud raksasa yang melambangkan kebatilan kemudian dimusnahkan/dibakar.

Memiliki nilai filosifi yang tinggi. Sebelum memperingati tahun baru saka, segala sifat-sifat buruk manusia yang diwujudkan sebagai raksasa dibakar dihilangkan. Sehingga dalam menatap tahun baru, semua sifat jahat itu sirna dan kembali kepada sifat baik dengan aura positifnya.(deajus/Ram)

Filed in: Atraksi Budaya, Pariwisata & Budaya